Wartadaerah.com, Palembang – Ada cerita panjang di balik seporsi pempek yang tersaji di Kampung Pempek 26 Ilir, Palembang. Bagi Diah, pemilik Pempek Hesty, usaha yang dirintis sejak 1995 bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga warisan keluarga yang ingin terus dijaga.
Berada di Jalan Mujahidin, Kecamatan Bukit Kecil, Pempek Hesty menjadi bagian dari geliat kuliner khas Palembang yang dikenal luas oleh masyarakat. Selama lebih dari tiga dekade, usaha ini terus menawarkan beragam sajian berbahan ikan dengan pilihan harga yang terjangkau.
“Usaha ini sejak 1995, turun-temurun dari ibu ke saya,” ujar Diah.
Kalimat sederhana itu menggambarkan perjalanan sebuah usaha keluarga yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menjaga Cita Rasa, Menjangkau Berbagai Kalangan
Pempek Hesty menghadirkan beragam pilihan menu, mulai dari pempek kapal selam, lenjer, adaan, telur, kulit, hingga keriting. Pelanggan juga dapat menikmati model, tekwan, otak-otak, dan lenggang.
Diah menjelaskan, kedainya menawarkan pempek berbahan ikan tenggiri dengan harga mulai Rp 1.000 untuk varian tertentu. Sementara itu, pempek premium berbahan ikan gabus tersedia mulai Rp 1.500 per buah.
Di antara berbagai pilihan tersebut, pempek kates menjadi salah satu menu andalan yang paling banyak diminati pelanggan.
Bagi pencinta kuliner, harga terjangkau dan pilihan menu yang beragam menjadi daya tarik tersendiri. Pempek pun tidak hanya menjadi makanan untuk dinikmati bersama keluarga, tetapi juga buah tangan yang kerap diburu saat berkunjung ke Palembang.
Pempek Vakum, Pilihan untuk Buah Tangan
Untuk menjangkau pelanggan yang ingin membawa pempek ke luar kota, Pempek Hesty menyediakan paket vakum dengan beragam pilihan jumlah.
Paket 50 buah pempek kecil campur ditawarkan seharga Rp 60.000, sedangkan paket 100 buah dibanderol Rp 115.000. Tersedia pula paket kombinasi pempek kapal selam, lenjer besar, dan pempek kecil.
Pada Oktober 2026, Pempek Hesty juga menawarkan promo gratis ongkos kirim untuk pempek premium ke wilayah Jabodetabek dengan minimal pemesanan 100 buah, sesuai ketentuan promo.
Penawaran ini membuka kesempatan bagi pencinta pempek di luar Palembang untuk menikmati kuliner khas Sumatera Selatan tanpa harus datang langsung ke kedainya.
Pelanggan Punya Alasan untuk Kembali
Kelezatan sebuah makanan sering kali paling mudah diceritakan oleh orang yang sudah berulang kali mencicipinya.
Lia, salah seorang pelanggan Pempek Hesty, mengaku rutin datang untuk menikmati pempek adaan, lenjer, dan telur. Ia biasanya berkunjung sekitar dua kali dalam sepekan.
Namun, kondisi kabut asap yang menyelimuti Palembang membuat kunjungannya berkurang dibandingkan sebelumnya.
Meski begitu, kesan Lia terhadap rasa pempek di kedai tersebut tetap positif.
“Enak di sini, mantul,” katanya.
Apresiasi serupa datang dari Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Silaturahmi Spiritual Keluarga Sriwijaya (PP SSKS), Ustaz Asmuni FF., yang berkesempatan mencicipi langsung sajian Pempek Hesty.
Ia datang bersama rombongan PP SSKS yang turut dihadiri Ketua Umum Kgs. Syafrizal, yang akrab disapa Mafia Paranormal, Dewan Penasihat Ustaz Usman Markoni, Muhammad Firdaus, dan sejumlah pengurus lainnya.
Mewakili Ketua Umum PP SSKS, Ustaz Asmuni menyampaikan dukungan kepada Diah agar terus mengembangkan usaha yang telah dirintis keluarganya.
“Alhamdulillah, enak sekali, garing, lemak nian. Ini pempek legendaris, pempek wong lamo yang memiliki cita rasa tersendiri. Masyarakat Kota Palembang wajib mencicipinya,” tuturnya.
Bagi PP SSKS, kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi dengan anggota serta memberikan dukungan moral kepada pelaku usaha.
Ketika Kabut Asap Ikut Memengaruhi Usaha
Perjalanan Diah mempertahankan usaha keluarga tidak selalu berjalan mulus. Belakangan, kabut asap turut menjadi tantangan bagi aktivitas penjualan, terutama produk oleh-oleh yang biasanya dibeli pengunjung dari luar kota.
Diah memperkirakan penjualan oleh-oleh kepada pembeli dari luar daerah turun sekitar 30 persen. Ia menilai kondisi tersebut membuat sebagian pengunjung mempertimbangkan kembali perjalanan mereka ke Palembang.
Ia berharap persoalan kabut asap segera ditangani agar masyarakat dapat beraktivitas dengan nyaman dan pelaku UMKM kembali mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Di tengah tantangan itu, Diah tetap melanjutkan usaha yang telah diwariskan ibunya. Baginya, menjaga Pempek Hesty berarti mempertahankan bukan hanya sumber penghidupan keluarga, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner Palembang.
Bagi masyarakat yang ingin mencicipi sajian Pempek Hesty, kedai ini beralamat di Jalan Mujahidin, Kampung Pempek 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang.
Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 0821-7762-8284. Dengan pilihan menu yang beragam, harga terjangkau, dan paket vakum untuk oleh-oleh, Pempek Hesty terus menawarkan cita rasa khas Palembang yang dapat dinikmati lintas generasi.(Tim)










