Palembang – Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAAI) Sumatera Selatan, H. Muhammad Siddik, Lc., M.HI., yang saat ini tengah berada di Tanah Suci, menyampaikan apresiasi dan sambutan positif atas terselenggaranya kegiatan MiziuMUISS (Majelis Ilmu, Zikir dan Ukhuwwah MUI Sumsel) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan di Masjid Raya Taqwa Palembang.
Kegiatan yang menghadirkan ulama dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Syaikh Hisyam Kamil, tersebut mengangkat tema “Wasathiyah Islam: Jalan Tengah dalam Beragama, Bermasyarakat dan Bernegara.”
H. Muhammad Siddik menilai tema yang diangkat sangat relevan dan strategis di tengah dinamika kehidupan umat Islam saat ini. Menurutnya, penguatan pemahaman wasathiyah Islam menjadi kebutuhan penting untuk membangun kehidupan keagamaan yang moderat, seimbang, inklusif, serta mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Wasathiyah bukan sekadar konsep untuk menghindari sikap ekstrem, tetapi merupakan prinsip keberagamaan yang mengedepankan keseimbangan antara teks dan konteks, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individu dan masyarakat, serta antara kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal OIAAI Sumatera Selatan, H. Dasram Efendi, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa salah satu misi utama Al-Azhar Asy-Syarief adalah menghadirkan dan mengembangkan pemahaman Islam yang wasathiyah dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 175 alumni Al-Azhar Asy-Syarief tercatat berada di Sumatera Selatan. Mereka tersebar dalam berbagai bidang pengabdian, mulai dari pendidikan, pesantren, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, dakwah hingga kehidupan sosial kemasyarakatan.
Para alumni tersebut memiliki perhatian dan komitmen yang kuat dalam mengembangkan nilai-nilai moderasi Islam. Dalam berbagai kajian keislaman maupun aktivitas dakwah, mereka senantiasa berupaya menyampaikan pentingnya keberagamaan yang moderat, menjauhi sikap ekstrem, menghargai perbedaan, mengedepankan dialog, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Lebih jauh, Dasram menambahkan bahwa salah satu karakter penting dakwah Islam di Sumatera Selatan adalah kemampuan merawat tradisi dan kearifan lokal masyarakat. Adat istiadat dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam patut dihargai dan diapresiasi sebagai bagian dari kekayaan peradaban masyarakat. Dengan demikian, Islam tidak hadir untuk mempertentangkan agama dengan budaya, melainkan memberikan tuntunan, nilai dan arah agar tradisi masyarakat tetap berada dalam koridor ajaran Islam.
SYAIKH HISYAM KAMIL PERDALAM WASATHIYAH DAN ETIKA BERFATWA
Dalam majelis tersebut, Syaikh Hisyam Kamil dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, memberikan pendalaman materi mengenai konsep wasathiyah Islam. Beliau menjelaskan pentingnya memahami Islam secara komprehensif, proporsional dan tidak parsial, sehingga umat mampu menempatkan setiap persoalan sesuai dengan prinsip, kaidah dan tujuan syariat Islam.
Selain materi wasathiyah, Syaikh Hisyam Kamil juga memberikan pembekalan khusus mengenai fatwa dan etika dalam berfatwa. Materi ini dinilai sangat penting sebagai bekal intelektual dan keilmuan bagi jajaran pengurus MUI Sumatera Selatan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kelembagaan.
Fatwa bukan sekadar jawaban terhadap persoalan hukum keagamaan, tetapi merupakan amanah keilmuan dan tanggung jawab moral yang harus dilandasi kedalaman ilmu, kehati-hatian, pemahaman terhadap realitas masyarakat, serta pertimbangan kemaslahatan umat.
Seorang pemberi fatwa dituntut memiliki kompetensi keilmuan, integritas moral, sikap objektif, dan kemampuan memahami konteks persoalan yang berkembang. Karena itu, etika berfatwa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab ulama dalam membimbing umat.
Pelaksanaan MiziuMUISS kali ini di Masjid Raya Taqwa Palembang berlangsung dengan antusias dan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan, termasuk para santri, mahasiswa, pengurus MUI Sumatera Selatan, serta masyarakat umum.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum pengajian dan penyampaian ilmu keislaman, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, penguatan ukhuwah Islamiyah, serta pertukaran wawasan keilmuan antara ulama, akademisi, alumni Al-Azhar dan masyarakat.
Kehadiran Syaikh Hisyam Kamil diharapkan dapat memperkuat hubungan keilmuan antara MUI Sumatera Selatan dengan tradisi keilmuan Al-Azhar Asy-Syarief yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dunia dalam mengembangkan pemahaman Islam yang moderat, toleran dan berorientasi pada kemaslahatan.(Rilis)









